Selasa, 26 Mei 2026

KHUTBAH SHALAT IDUL ADHA 1447 H

NASKAH KHUTBAH SHALAT IDUL ADHA 1447 H

Tema: Mencetak Ismail di Keluarga Kita  Waktu: 10 Dzulhijjah 1447 H Khatib: Redi Rindayadi Ahmad

KHUTBAH PERTAMA

1. Pembuka (Muqaddimah & Takbir)

(Khatib berdiri membaca Takbir sebanyak 9 kali dengan khidmat)

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ 

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

 اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ


اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا،

 وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً.

لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ 


إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا أَمَّا بَعْدُ

أما بعد


Ma'asyiral Muslimiina Rahimakumullah,

 

Mari  kita panjatkan Segala puji dan syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala atas berbagai ni'mat yang kita terima yang tidak akan bisa kita hitung karena saking banyaknya.

Khususnya ni'mat yang sedang Allah Berikan kepada kita hari ini, ni'mat melaksanakan Shalat Sunnah ‘Ied al Adha. Ni'mat yang sangat besar,  karena melaksanakan ibadah di 10 Hari Awal Dzulhijjah, termasuk hari ini 10 Dzulhijjah. lebih Dicintai dari amalan yang lain kecuali Syahid di Jalan Allah. Shalat kita di 10 hari awal Dzulhijjah lebih Allah Cintai daripada berangkat perang di jalan Allah kecuali sampai Syahid. Bacaan Al Qur'an kita dari tanggal 1 Dzulhijjah kemarin Lebih Dicintai Allah dari kita berangkat Umroh (di luar 10 awal Dzulhijjah). Sedekah yang kita keluarkan kemarin Lebih Dicintai Allah dari kita memberi makan 1000 anak yatim di luar awal Dzulhijjah ini.

Jika kita ta'jub mengetahui hal ini, jangankan kita para sahabat pun ta'jub:

Ketika Rasulullah bersabda:

"Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada hari–hari yang sepuluh ini". Para sahabat bertanya, "Tidak juga jihad di jalan Allâh ? Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Tidak juga jihad di jalan Allâh, kecuali orang yang keluar mempertaruhkan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan sesuatupun."

[HR al-Bukhâri dan at-Tirmidzi]

 

Puasa yang kita lakukan dari tanggal 1 Dzulhijjah kemarin lebih dicintai Allah dari Puasa Daud di hari biasa. Bahkan puasa tanggal 9 Dzulhijjah kemarin menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.

Ni'mat yang luar biasa.

Jika kita merasa amal ibadah kita dari tanggal 1 Dzulhijjah kemarin kurang maksimal masih ada kesempatan. Bukankah hari ini tanggal 10 Dzulhijjah masih termasuk 10 hari awal Dzulhijjah. Bukankah Shalat Sunnah dan Khutbah Idul Adha ini adalah Ibadah. Mari kita sempurnakan Shalat sunnah Idul Adha kita ini dengan fokus dan berdoa agar diberikan manfaat yang besar berupa hidayah ilmu dan hidayatuttaufiq dari kita melaksanakan shalat Sunnah Idul Adha ini.

Kita juga masih ada kesempatan melakukan Ibadah Nahr, penyembelihan hewan qurban. Ibadah membantu pembagian daging qurban. Ibadah memperbanyak Takbir mutlaq, kita bisa takbir sambil kita berjalan saat menyembelih, saat menunggu shalat dan di setiap saat di segala aktivitas kita. Juga kita ada Takbir Muqayyad yang dilakukan setelah shalat fardhu sampai Ashar di akhir hari Tasyriq tanggal 13 Dzulhijjah. Bayangkan kita ikut Takbir setelah shalat Fardhu, lebih Dicintai Allah daripada kita berangkat Umroh. MasyaaAllah.

Masih ada shalat Dhuhur dan shalat Ashar di hari ke 10 ini untuk kita mengerjakan Ibadah takbir Muqayyad.

Mari kita sempurnakan ibadah penyembelihan hewan qurban kita, membantu pembagian daging kurban, dan memperbanyak takbir di hari ke 10 ini agar kita mendapatkan keutamaan memperbanyak amal ibadah yang Dicintai Allah Lebih dari ibadah apapun di waktu yang lain .


Ma'asyiral Muslimiina Rahimakumullah,


Mari kita kembali ke 2000 tahun yang lalu di tanggal ini 10 Dzulhijjah dimana terjadi percakapan antara seorang Bapak dengan anaknya seperti disampaikan QS. As Saffat ayat 102: 

"Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!"

Sang anak tidak ketakutan, dia tidak lari, dia tidak mencari perlindungan ibunya, dia justru menjawab dengan ketenangan yang menggetarkan langit:

"Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. As-Saffat: 102)


Ma'asyiral Muslimiina Rahimakumullah,

Ya, Bapak dan anak itu adalah Nabiyullah Ibrahim dan anaknya Ismail. Anak yang memiliki ketangguhan hati padahal usianya baru 13 tahun (sesuai pendapat Ibnu Abbas dalam tafsirnya). Baru kelas 7, Kelas 1 SMP. Tapi sudah mempunyai ketangguhan iman, ketangguhan hati, kekuatan aqidah, siap disembelih demi menaati perintah Allah dan Rasul-Nya.


Ma'asyiral Muslimiina Rahimakumullah,

Maukah kita mempunyai anak keturunan seperti Nabi Ismail muda ini? Anak yang tangguh hati dan keimanannya. Di tengah maraknya berita saat ini tentang bagaimana rapuhnya anak-anak kita saat ini. Sehingga disebut “Strawberry Generation”—generasi yang tampak indah dan kreatif di luar, namun mudah hancur, stres, dan rapuh ketika menghadapi tekanan hidup. Tentunya kita semua orang tua menginginkan anak keturunan kita seperti Nabi Ismail muda ini.

Oleh karena itu, hari ini, Khatib di mimbar Idul Adha yang mulia ini mengajak kita semua, khususnya para orang tua mempelajari tuntunan dari Allah SWT dan Nabiyullah Ibrahim dalam mencetak anak-anak kita agar memiliki mental baja dan iman setangguh Nabi Ismail muda.

Ma'asyiral Muslimiina Rahimakumullah,

Setidaknya ada 3 Pilar Kurikulum Ibrahimiyah dalam mencetak anak bermental Ismail:

PILAR 1: Doa kita sebagai Orang Tua 

Doa untuk anak keturunan kita dipanjatkan jauh sebelum kelahiran anak kita.

Nabi Ibrahim AS berdoa puluhan tahun sebelum Ismail lahir:

Robbi habli minasshalihin "Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang saleh." (QS. As-Saffat: 100)


Mari kita periksa kembali doa-doa kita untuk anak-anak kita. Jangan kita hanya mendoakan agar anak kita sukses duniawi, kaya raya, pintar, dan memiliki jabatan tinggi. Namun utamakan meminta anak kita dishalehkan.


Mungkin banyak orang tua saat yang mengeluh anaknya yang kaya jarang mengungjunginya, anaknya yang pintar malah memaki-makinya, anaknya yang pejabat tinggi malah merasa malu mempunyai orang tua sepertinya. Jika ini menimpa kita tanyakan kepada diri kita sudah seberapa sering kita berdoa:

“Robbi Habli minas shalihin”

Sudah berapa sering kita berdoa:

“Robbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a’yun waj’alna lil muttaqina imama”

“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (penyenang pandangan mata), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” 

Sudah berapa sering, sehari sekali? Setiap habis shalat? Sudah berapa lama? Puluhan tahun seperti Nabi Ibrahim?  


Mari kita perbanyak doa kita, dan kita berarap Allah menjawab doa kita sebagaimana Allah Menjawab doa Nabi Ibrahim:

Allah berfirman:

"Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang halim (sangat sabar, santun, dan matang)." (QS. As-Saffat: 101)

Allah tidak hanya menjanjikan anak yang sekadar kuat fisiknya atau melimpah hartanya, namun anak yang memiliki sifat halim—sebuah kematangan emosional dan spiritual tingkat tinggi.


PILAR 2: Ibu yang Shalehah

Ibunda Nabi Ismail adalah wanita yang keimanannya sangat tinggi.

Salah satu buktinya seperti disampaikan oleh Ibnu Abbas رضي الله عنهما dalam HR. Bukhari:

Saat Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail (di lembah Makkah yang gersang, tanpa air, tanpa tanaman, dan tanpa manusia),

Hajar berkata:

يَا إِبْرَاهِيمُ، أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الْوَادِي الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ؟

"Wahai Ibrahim, ke mana engkau pergi dan meninggalkan kami di lembah ini yang tidak ada manusia dan tidak ada apa-apa?"

Ibrahim tidak menjawab.

Lalu Hajar bertanya:

آللَّهُ أَمَرَكَ بِهَذَا؟

"Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?"

Ibrahim menjawab:

نَعَمْ
"Ya."

Maka Hajar berkata:

إِذًا لَا يُضَيِّعُنَا

"Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami."

(HR. Bukhari no. 3364)


Ibunda Nabi Ismail adalah wanita kuat yang tidak mudah mengeluh, siap berjuang dan mampu berusaha. Ini dibuktikan ketika air habis dan Ismail kecil menangis kehausan, Ibunda Hajar berlari bolak-balik antara Shafa dan Marwah. Beliau tidak menangis, tidak putus asa. Berlari 7 kali naik turun bukit yang jaraknya total mencapai hampir 3 km.


Ibu yang kuat ketauhidan dan keimanannya, yang tidak mengeluh, siap berjuang dan mampu berusaha inilah yang akan mampu mencetak anaknya seperti Ismail muda.


Sampai-sampai ada ungkapan: Mau mencetak Ismail jangan lupakan Hajar.

Mau mencetak anak shaleh/shalehah, jangan lupakan Ibunya juga harus Shaleh/shalehah.


Oleh karena itu, di Masjid Nurul Iman ini ada pengajian Ibu-ibu. Tujuannya agar Ibu-ibu di lingkungan kita ini menjadi shalehah. Sehingga mampu mencetak anak shaleh/shalehah seperti Ismail. Oleh karena itu mari kita doakan bersa para assatidzahnya, Ustadz Asep, Ustadz Baban, dan yang lainnya agar Allah Menjaganya, Hafidzhahumullah, Allah Memberikan Kemudahan rizki, Allah Menguatkannya di jalan yang Istiqomah. Amin.


PILAR 3: Mendidik bukan Menghardik, Menuntun bukan memaksa


Perhatikan bagaimana Nabi Ibrahim AS menyampaikan perintah Allah untuk menyembelih anaknya. Sebagai ayah dan sebagai seorang Nabi yang menerima wahyu mutlak, Ibrahim bisa saja langsung mengikat Ismail dan mengeksekusinya.

Namun, Ibrahim memilih pendekatan dialogis yang mendidik: "Wahai anakku... pikirkanlah apa pendapatmu!"

Nabi Ibrahim menghormati akal dan jiwa anaknya. Beliau mengajak anaknya berdiskusi dalam ketaatan. Mengapa Ismail bisa menjawab dengan begitu bijak? Karena sejak kecil, beliau tidak dididik dengan sistem komando yang kaku, melainkan dengan dialog penuh cinta dan logika iman.


Tuntun bukan dipaksa. Anak kita mungkin mengabaikan nasihat kita, tapi mereka tidak pernah gagal meniru perbuatan/tuntunan kita.

  • Kita tidak akan bisa melahirkan anak yang rajin membaca Al-Qur'an jika jemari kita sebagai orang tua lebih sibuk menggulirkan layar smartphone.

  • Kita tidak akan bisa melahirkan anak yang jujur jika mereka sering mendengar kita berbohong dalam kehidupan sehari-hari.

  • Kita tidak akan bisa melahirkan anak yang kuat imannya jika mereka melihat kita panik dan berkeluh kesah setiap kali menghadapi masalah ekonomi keluarga.


Aqulu Qouliy Hadza Astaghfirullaahu lii wa lakum.




KHUTBAH KEDUA


اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ 

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

 اللهُ أَكْبَرُ، 


Shalawat Ibrahimiyah

Ma'asyiral Muslimiina Rahimakumullah,

Mari kita jadikan momentum Idul Adha 1447 H ini sebagai titik balik untuk meningkatkan usaha dalam mencetak anak kit seperti Nabi Ismail Muda. Mari kita kembalikan madrasah keluarga kita menjadi tempat penyemaian iman yang kokoh, agar kelak dari rumah-rumah kita lahir generasi-generasi setangguh Ismail—generasi yang siap berkata: "Wahai ayahku, wahai ibuku, melangkahlah di jalan Allah, insya Allah kalian akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."

.

Doa Khutbah Kedua

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.


Robbi Habli minas shalihin

Robbana Hablana


رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا


Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, Di pagi hari raya yang penuh berkah ini, kami menumpahkan seluruh harap kami di hadapan-Mu. Ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan bimbinglah kami agar mampu menjadi orang tua yang amanah dalam mendidik titipan-Mu.


Ya Allah, Sang Pemilik Jiwa, Anugerahkanlah kepada kami keturunan yang shaleh dan shalehah. Karuniakanlah kepada anak-anak kami ketangguhan iman seperti Nabi Ismail. Jaga dan lindungilah anak-anak kami dari fitnah zaman yang merusak moral dan akidah mereka. Jadikanlah mereka generasi yang menegakkan shalat, berbakti kepada orang tua, dan membawa manfaat besar bagi agama, nusa, dan bangsa.


Ya Allah, Ya Dzash Sholtanil Adhim, Satukanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu. Jadikanlah negeri kami negeri yang aman, makmur, tenteram, di bawah naungan ampunan dan ridha-Mu.

.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Subhana rabbika rabbil ‘izzati 

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ۝ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ ۝ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

(QS. Ash-Shaffat 180–182)


Tidak ada komentar: