Sabtu, 11 Januari 2014

Faidah dari Surat Maryam

*) Tulisan ini merupakan ikhtisar dari kajian Ustadz Abu Muhsin Firanda pada hari Ahad 10 Rabi'ul Awwal 1435H/12 Jan 2014 di Masjid Raya At-Taqwa Rawalumbu Bekasi. Adapun sebuah Ikhtisar tentu tidak akan selengkap yg disampaikan Ustadz pada saat kajian.

Surat Maryam adalah surat Makkiyah, yaitu surat yg diturunkan sebelum hijrah. Buktinya adalah surat ini dibacakan oleh Ja'far bin Abi Thalib kepada Raja Najasyi.

Faedah di Surat Maryam

Ayat 1:

كهيعص

Tidak diartikan, hanya Allah Yang Maha Mengetahui artinya.

Ayat 2:
Menurut Ibnu Katsir, sebelumnya Zakaria tidak pernah berdoa untuk meminta anak karena tahu istrinya mandul.

Sebab yg membuat Nabi Zakaria terdorong untuk meminta mempunyai anak:
1. Melihat keajaiban Maryam
     - Ada makanan di mihrab Maryam tanpa ada manusia yg membawakan
     - Makanan yg ada tidak sesuai musimnya (buah musim panas dihidangkan di musim dingin, buah musim dingin dihidangkan musim panas)
2. Ingin ada yang meneruskan dakwahnya

Ayat 3:
Adab berdoa yg diajarkan Nabi Zakaria:
1. Berdoa dengan suara yg lirih (hanya didengar oleh yg berdoa). Kecuali jika ada dalil yg harus mengeraskan, misal: Takbir di hari raya, adzan, (talbiyah: red). Hal ini juga bisa menjauhkan dari riya. Juga termasuk saat thawaf berdoa secara lirih.
2. Tawasul dengan kebaikan yg pernah dilakukan (ayat 4), tawasul dg husnudzhon kepada Allah dan tawasul syar'i lainnya
3. Terperinci dalam berdoa. Lihat bagaimana Nabi Zakaria memperinci saat tawasul dgn kebaikan yg pernah dilakukannya dan memperinci saat meminta diberikan anak yg shaleh.

Ayat 4-6:
Allah Menyampaikan kabar mengenai isi doanya Zakaria.
Dan doanya dilakukan sedang shalat. Ini menunjukkan keutamaan berdoa saat shalat. Perbanyak berdoa pada sujud saat shalat.

Tawasul yg dilakukan Nabi Zakaria:
1. Dengan kebaikan yg pernah dilakukan
2. Dengan husnudzhon bahwa Allah akan Mengabulkan doanya

Yang dimaksud "anak untuk mewarisiku" di ayat 6 bukanlah mewarisi harta, dalilnya:
1. Seorang shaleh tidak mungkin meminta anak untuk menjaga hartanya
2. Dalam nashnya juga disebutkan "mewarisi Ahli Ya'qub", tidak mungkin artinya untuk menjaga harta peninggalan Ya'qub. Terlalu jauh zamannya.

Ayat 7:
Doanya dikabulkan, dan disebut oleh mufassirin bahwa berita pengkabulan doa ini pada saat Nabi Zakaria shalat

Ayat 8:
Ungkapan kagetnya Zakaria ketika diberitakan akan mempunyai anak.

Ayat 9:
Mudahnya Allah Menciptakan apapun termasuk hanya memberikan anak kepada yang mandul dan dari seorang ayah yg sangat tua

Ayat 10-11:
Bisunya Zakaria adalah bisu bercakap-cakap tapi beliau masih bisa mengucapkan kalimat thoyyibah (tasbih, takbir, tahmid, etc)

Ayat 12-14:
Yahya belajar sejak kecil sampai tidak bermain dg anak-anak lainnya. Ayahnya sudah sangat tua dan beliau harus mewarisi ilmunya

Ayat 15:
Yahya akan selamat dari gangguan setan

Ayat 16:
Permulaan kisah Maryam

Ayat 17:
Malaikat Jibril datang kepada Maryam dalam bentuk manusia yg sempurna (sangat tampan). Seperti banyak disebutkan Malaikat 
Rasulullah saja merasa takut saat melihat Malaikat Jibril dalam bentuk aslinya

Ayat 18:
Dan datangnya Malaikat dalam bentuk laki-laki tampan, ini adalah bentuk ujian bagi Maryam. Namun Maryam menghadapi ujian dengan:
1. Berlindung kepada ar-Rahman. Jangan pede bahwa kuat menghadapi godaan. Mintalah perlindungan kepada Allah. Lihatlah Nabi Yusuf, seorang Nabi, tapi tetap meminta perlindungan kepada Allah
2. Menasehati orang yg mengganggu/menggoda

Ayat 19-21:
Kandungan Maryam normal seperti kehamilan biasa. Ini merupakan ujian yg berat bagi Maryam dan juga ujian bagi Zakaria (bisa dituduh menzinahi Maryam), dan ujian bagi umat masa itu (apakah akan menerima bayi "yg biasa-biasa saja cara dikandungnya")

Ayat 22-23:
Ujian ini begitu beratnya sehingga Maryam menjauh dari kotanya bahkan meminta mati. Para 'Ulama menyebutkan bahwa meminta mati ini dikarenakan takut menggoncang keimanannya

Ayat 24-26:
Allah bisa mendatangkan akibat tanpa sebab, contoh: makanan yg langsung ada di mihrabnya, dan ada mata air yg mengalir seperti di ayat 24. Dan yg harus ada usahanya walaupun akibat yg dihasilkan diluar dari hal biasa, seperti Maryam disuruh menggoyang pohon kurma seperti di ayat 25.
Jadi harus ada usaha kita, biarlah akibatnya Allah Yang Menentukan. Namun ketika akibat tidak ada atau tidaj sesuai harapan maka bertawakallah kepada Allah.
Allah Kemudian Memerintahkan Maryam untuk diam. Ini juga ibroh bagi kita bahwa tidak semua harus kita katakan.

Ayat 27-28:
Yang dimaksud Harun pada ayat 28 adalah saudaranya Maryam pada zamannya (bukan Harun, saudara Musa).

Ayat 29-34:
Nabi 'Isa yg masih bayi pun berbicara.
Yang dikatakan pertama kali adalah "Sesungguhnya aku adalah 'Abdullah (hamba Allah)"

Nabi 'Isa disebutkan "berkah dimanapun ia berada", ka arena ia mengajar kebaikan dimana-mana (mu'allim, da'i).

Kelahiran Nabi 'Isa juga menurut injil adalah musim panas. Disebutkan dalam injil bahwa saat Nabi 'Isa lahir "domba-domba dilepaskan di malam hari". 
Adapun bagi kita tidak ada kepentingan bagi kita untuk menetapkan kapan di musim apa Nabi 'Isa lahir karena tidak ada 'ibadah yg terkait dengannya.
Mohon digarisbawahi bahwa ada yg membolehkan mengucapkan "selamat natal"  dengan dalil ayat 33:

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

"Dan kesejahteraan (salam) semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali". (Maryam:33)

Pendalilan ini mudah dikenali kesalahannya yaitu:
1. Salam dalam bahasa Arab (al-Qur'an) berbeda ma'nanya dengan "Selamat" dalam bahasa Indonesia, terutama pada ucapan "Selamat Natal".  Dalam kamus Bhs Indonesia artinya "terbebas dr bahaya, malapetaka, bencana; terhindar dr bahaya, malapetaka; bencana; tidak kurang suatu apa; tidak mendapat gangguan; kerusakan, dsb". Bagaimana arti kata ini disandingkan dengan ayat diatas yg juga menyebutkan "salam di hari kematianku". Bukankah kematian seorang Nabi adalah mushibah.
2. Keselamatan dalam kelahiran tidak berarti memperingatinya. Tidak disebutkan Nabi dan para Shahabat dan orang-orang shalih memperingati hari kelahiran Nabi 'Isa.
3. Memberikan ucapan selamat malah menjauhkan dari dakwah kita kepada kaum Nasrani. Malah memberi selamat atas kekafiran mereka.

Ayat 35-40:
Ayat yg jelas-jelas menunjukkan kesesatan Nasrani yang meyakini tuhan ada 3.

Pengetahuan tambahan:

Curhat hanya kepada Allah. Nabi Ya'qub: aku hanya mengadukan kesedihanku kepada Allah

Nabi Zakaria adalah tukang kayu (carpenter)

Waktu diijabah di hari Jum'at, dua pendapat yg kuat:
1. Setelah Ashar
2. Saat shalat di hari Jum'at

Malaikat Jibril punya 600 sayap

Doa dicukupkan dengan yg halal:

اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
Allahummak-finii bi halaalika 'an haroomik, wa aghniniy bi fadhlika 'amman siwaak. [Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal dari-Mu dan jauhkanlah aku dari yang Engkau haramkan. Cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dan jauhkan dari bergantung pada selain-Mu]. (HR. Tirmidzi no. 3563 dan Ahmad 1: 153. Kata Tirmidzi, hadits ini hasan ghorib. Sebagaimana disebutkan oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, 1: 474, hadits ini hasan secara sanad)

Al-Masih: menyembuhkan hanya dengan menyentuh. Adapun Al-Masihnya Dajjal karena semua daerah di dunia akan disentuh/disinggahi dajjal

Jumat, 10 Januari 2014

Takabbur, Dosa yg menyebabkan muslim masuk neraka

*) Tulisan ini merupakan ikhtisar dari kajian Ustadz Abu Haidar as-Sundawi Sabtu 9 Rabi'ul Awwal 1435H/11 Jan 2014 di Masjid Jannatul Firdaus Galaxi Bekasi Selatan. Adapun sebuah Ikhtisar tentu tidak akan selengkap yg disampaikan Ustadz pada saat kajian.

Manusia makhluq yg ajwaf (berongga)
Ketika iblis tahu manusia adalah makhluq yg ajwaf maka tahulah dia bahwa manusia adalah makhluq yg tidak tamalluk yaitu makhluq yg tidak mampu menahan dirinya:
1. Dari syahwat
2. Dari marah
3. Dari waswas

Oleh karena manusia pasti terjerumus ke dalam dosa. Lihat ciri orang taqwa di QS.3:135

"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." QS.3:135

Namun Allah Ar-Rahman Yang Maha Penyayang meyiapkan hal-hal yang dapat menghapus dosa.

Hal-hal penghapus dosa:
1. Taubat
2. Segala kebaikan
3. Segala gangguan (kesedihan, kesakitan, penderitaan fisik dan psikis)
4. Doa malaikat
5. Doa orang-orang mukmin

Orang mukmin bisa masuk Surga tanpa hisab jika kebaikannya lebih besar dari dosanya. Saldo kebaikannya akan menjadi dasar tingkatannya di surga. Saldo dosa menjadi dasar lama sebentarnya di neraka.

Namun ada dosa yg diancam masuk neraka yaitu salahsatunya adalah Takabbur.

Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi". Seorang laki-laki bertanya: "Ada seseorang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus (apakah termasuk bersikap sombong?)" Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan. Bersikap sombong, ialah menolak kebenaran dan merendahkan manusia" HR Muslim, no. 2749, dari 'Abdullah bin Mas'ud.

Arti "Tidak akan masuk surga" dalam hadits di atas atau dalam Al-Qur'an dan Hadits menurut Syaikh al-Utsaimin adalah:
- Kekal di neraka, ATAU
- Tidak akan langsung masuk surga (masuk dulu neraka)
Tergantung dari siapa yg dimaksud dari ayat tersebut.

Takabbur secara bahasa artinya merasa besar, asal katanya "kaburo".

Adapun secara syari'at, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan hakikat kesombongan dalam hadits beliau Shallallahu 'alaihi wa salllam :

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

"Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia". [HR. Muslim, no. 2749, dari 'Abdullah bin Mas'ûd

Balasan bagi orang yg takabbur yaitu dihinakan. Tubuhnya akan mengecil di akhirat. Padahal ahli neraka tubuhnya dibesarkan oleh Allah (giginya sebesar gn Uhud). Disebutkan dalam hadits akan dijadikan sebesar benih atau sebesar semut yg kecil.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ يَغْشَاهُمْ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَيُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ فِي جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُولَسَ تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ يُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِينَةَ الْخَبَالِ

"Pada hari kiamat orang-orang yang sombong akan digiring dan dikumpulkan seperti semut kecil, di dalam bentuk manusia, kehinaan akan meliputi mereka dari berbagai sisi. Mereka akan digiring menuju sebuah penjara di dalam Jahannam yang namanya Bulas. Api neraka yang sangat panas akan membakar mereka. Mereka akan diminumi nanah penduduk neraka, yaitu thinatul khabal (lumpur kebinasaan)". [Hadits Hasan. Riwayat Bukhari di dalam al-Adabul Mufrad, no. 557; Tirmidzi, no. 2492; Ahmad, 2/179; dan Nu'aim bin Hammad di dalam Zawaid Az-Zuhd, no. 151]

Secara umum bentuk takabbur/kesombongan diantaranya:
1. Menolak kebenaran
2. Merendahkan manusia
3. Memvonis orang dgn vonis yg hanya Allah yg berwenang.
Seperti disebutkan dalam hadits shahih:

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shollallahu 'alaih wa sallam bersabda: "Ada dua orang laki-laki dari kalangan Bani Israil yang saling bersaudara. Yang satu rajin ibadah dan lainnya berbuat dosa. Lelaki yang rajin beribadah selalu berkata kepada saudaranya, 'Hentikan perbuatan dosamu!" Suatu hari ia melihat saudaranya berbuat dosa dan ia berkata lagi, 'Hentikan perbuatan dosamu!" "Biarkan antara aku dan Tuhanku. Apakah kamu diutus untuk mengawasiku?" jawabnya. Ia berkata lagi, "Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu" atau "Dia tidak akan memasukanmu ke surga." Kemudian Allah mengutus malaikat kepada keduanya untuk mengambil ruh keduanya hingga berkumpul di sisi-Nya. Allah berkata kepada orang yang berdosa itu,"Masuklah kamu ke surga berkat rahmat-Ku."Lalu Allah bertanya kepada lelaki yang rajin beribadah,"Apakah kamu mampu menghalangi antara hamba-Ku dan rahmat-Ku?"Dia menjawab, "Tidak, wahai Tuhanku." Allah berfirman untuk yang rajin beribadah (kepada para malaikat): "Bawalah dia masuk ke dalam neraka." Abu Hurairah– semoga Allah meridhainya – berkomentar, "Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh ia berkata dengan satu kalimat yang membinasakan dunia dan akhiratnya."(HR Abu Dawud).

4. Ta'jub kepada dirinya

Contohnya dengan penamaan yg menyiratkan kesombongan. Seperti disebutkan dalam hadits shahih,

إِنَّ أَخْنَعَ اسْمٍ عِنْدَ اللَّهِ رَجُلٌ تَسَمَّى مَلِكَ الأَمْلاَكِ

"Sesungguhnya nama yang paling jelek di sisi Allah Ta'ala ialah nama "Malikul Amlak" (Maha Raja Diraja)". (HR. Bukhari no. 6206 dan Muslim no. 2143)

Nama yang diqiyaskan (dianalogikan) dengan  Malikul Amlak adalah Sulthon As Salaathin (Sultan dari segala sultan), Hakimul Haakim (Hakim dari para hakim), Qodhi Al Qudhot (Qodhi dari para Qodhi). Nama-nama ini adalah nama yang haram karena mengandung penyucian diri dan kedustaan.

5. Sombong dalam hal berpakaian (misal: isbal untuk laki-laki)

Semoga Allah Menjauhkan kita semua dari sifat takabbur. Aamiiin.

Minggu, 10 November 2013

Iman Kepada Hari Akhir

Sabtu, 6 Muharram 1435 / 9 November 2013
Tulisan ini adalah ringkasan kajian, banyak ayat+hadits yg Ustadz sampaikan namun tidak ditulis disini.

Iman kepada hari akhir mencakup:
1. Iman kepada hari kebangkitan
2. Iman kepada hisab (penghitungan)/ al Jaza (balasan)
3. Beriman kepada Surga dan Neraka
4. Beriman kepada apa yg terjadi setelah mati

Tidak dianggap beriman kepada hari akhir jika belum mengimani keempatnya dengan sempurna.

1. Iman kepada hari kebangkitan
- Dalil dalam al-Qur'an

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (QS.Al-Mu'minun [23]: 115)

- Hadits mengenai kebangkitan
Dari A'isyah ra, Rasulullah saw bersabda :

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفُاةً عُرَاةً غُرْلاً  قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ  النِّسَاءُ وَالرِّجَالُ جَمِيْعًا؟  يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ اِلَى بَعْضٍ!  قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  يَا عَائِشَةُ اَلاَمْرَ اَشَدُّ مِنْ اَنْ يَنْظُرَ بَعْضُهُمْ اِلَى بَعْضٍ  =متفق عليه=

"Manusia dikumpulkan pada hari kiamat keadaan tanpa beralas kaki, telanjang, belum di khitan". Aku bertanya : "Ya Rasulallah, perempuan dan laki-laki semuanya? Sebagian mereka akan melihat kepada sebagian yang lain". Beliau saw bersabda : "Hai A'isyah, urusan pada saat itu lebih dahsyat ketimbang sebagian melihat kepada sebagian yang lain". =HR. Muttafaqun 'Alaih=

2. Iman kepada hisab (penghitungan)/ al Jaza (balasan)
Dalilnya dalam al-Qur'an:

إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ

Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka,
ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ

kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka. (Al-Ghatsiyah [88]: 25-26)

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (QS. al-An'aam [6]: 160)

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ

Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak. (QS. al-Hadiid [57]: 11)

3. Beriman kepada Surga dan Neraka
Surga adalah negeri kenikmatan, yg nikmatnya tidak akan terbayang oleh manusia di dunia. Seperti disebutkan dalam As-Sajdah 17.

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan. (QS. As-Sajdah [32]: 17)

Adapun siksa neraka adalah sangat pedih seperti disebutkan dalam Al-Qur'an:

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا

Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (QS. Al-Kahfi [18]: 29)

4. Beriman kepada apa yg terjadi setelah mati
     1) Fitnah di alam Qubur. Berupa pertanyaan: Siapa Rabbmu (tauhid), Siapa Nabimu (manhaj), Apa Agamamu (syariat), .
      2) Adzab dan nikmat Qubur

Jumat, 25 Oktober 2013

TAQWA, Bekal Pernikahan Bahagia

Khutbah Nikah 26/10/2013

Gunturan, Desa Triharjo Bantul - Yogyakarta
Pernikahan Keponakanku.
Kami mencintai Ananda karena Allah...


Kamis, 27 Juni 2013

Menjadikan Makan dan Minum sebagai Aktivitas Ketaqwaan

Khutbah Jum’at 28/6/2013
Masjid Al-Ihsan PTM-VJS Galaksi Bekasi


“Menjadikan Makan dan Minum sebagai Aktivitas Ketaqwaan”

Assalammu’alaikum Warohmatullloohi Wabarokatuh,
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا أَمَّا بَعْدُ
أما بعد،،،
فإن أصدق الحديث كتاب الله، وأحسن الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم ، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثةٍ بدعةٍ، وكل بدعةٍ ضلالةٍ، وكل ضلالةٍ في النار، وبعد


Ma’asiral muslimin Rahimaniy wa Rahimakumullah
Saudara-saudaraku kaum muslimin yang khotib cintai dan di-Rahmati Allah

Pembuka khutbah yang barusaja khatib bacakan adalah Khutbatul Hajat, pembuka khutbah yang biasa dibacakan oleh Rasulullah saw. Dengan demikian hampir dalam setiap khutbahnya Rasulullah menyerukan mengenai perintah bertaqwa. Tidak kurang dari 4 perintah taqwa dalam pembuka diatas.
·         Yaa Ayyuhalladziina amana ittaqullaaha haqqo tuqotih... (wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa..)
·         Ya Ayyuhannas ittaqu rabbakumulladzi kholaqokum min nafsin wahidah (wahai sekalian manusia bertaqwalah kepada Allah yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu..)
·         Wattaqullaah alladzi tasaaluuna bihi wal arham (bertakwalah kepada Allah yang dengan-Nya kalian saling meminta dan saling menyayangi)
·         Yaa Ayyuhalladziina amana ittaqullaaha wa quluu qoulan sadida (wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar..)

‘Ulama sepakat bahwa yang dimaksud taqwa secara syariat adalah Imtitsalu Nawamir wajtinabu nawahi, mengerjakan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya.
Dengan demikian inti seruan taqwa adalah meningkatkan amalan-amalan yang diperintahkan Allah, hanya melaksanakan amal ibadah yang diperintahkan Allah saja, dan menyandarkan segala/seluruh aktivitas kita sesuai dengan yang diperintahkan Allah SWT. Dan segera mengurangi aktivitas-aktivitas yang dilarang Allah SWT, segera mengurangi maksiat, segera mengurangi perbuatan-perbuatan dosa sekecil apapun.

Ma’asiral muslimin Rahimaniy wa Rahimakumullah
Hendaknya kita mulai melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya dalam setiap aktivitas kehidupan kita. Termasuk dalam makan dan minum.
Dan inilah tema khutbah kita hari ini, yaitu “Menjadikan Makan dan Minum sebagai Aktivitas Ketaqwaan”
Makan dan minum adalah kegiatan setiap manusia setiap hari. Alangkah ruginya kita jika ternyata dalam makan dan minum ini kita melanggar larangan-Nya, karena berarti minimal 2 kali sehari kita menambah daftar hal-hal yang kita langgar. Dan alangkah beruntungnya jika kita dapat makan dan minum sesuai perintahnya, karena berarti minimal 2 kali sehari kita menambah daftar amal yang diperintahkan.

Ma’asiral muslimin Rahimaniy wa Rahimakumullah
Di dalam mendefinisikan taqwa, untuk kata mengerjakan segala perintahnya ‘Ulama menggunakan kata “Imtitsalu”. Imtitsalu Nawamir. Padahal kata imtitsalu sejatinya bukan mengerjakan. Asal katanya adalah “mitslun”. Atau yang kita kenal dalam bahasa Indonesia dengan misal. Yang salah satu artinya mirip. Kenapa? Karena dalam melaksanakan perintah Allah, kita harus mirip/semisal dengan yang dikerjakan Rasulullah saw. ittiba’, mengikuti apa yang dilakukan beliau, yang dianjurkan beliau dan apa-apa yang beliau setujui ketika sahabat melakukannya (taqrir).
Demikian dalam hal makan dan minum. Termasuk dalam melaksanakan perintah Allah ketika kita mengerjakan apa yang Rasulullah lakukan saat makan dan minum. Termasuk dalam melaksanakan perintah Allah ketika kita mengerjakan apa yang Rasulullah anjurkan dan beliau taqrir ketika makan.
Berikut beberapa hal yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan dan yang dilarang dalam makan dan minum.

1.       Jangan Makan dan Minum barang yang haram
Allah berfirman dalan QS. Al-Baqarah: 168:


Allah berfirman, "Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan, karena sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu."
(QS. al-Baqarah : 168)

Haramnya makanan dan minuman disebabkan oleh dua hal. Yang pertama adalah zatnya, haram bi zatihi. Misal daging babi, darah, hewan yang disembelih dengan bukan nama Allah, maka itu haram karena zatnya. Yang kedua adalah haram karena cara memperolehnya. Misal diperoleh dengan cara mencuri atau dibeli dari uang hasil curian, uang hasil riba, dan cara yang haram lainnya.

Di ayat tadi jelas disebutkan bahwa memakan makanan haram adalah pintu untuk mengikuti langkah-langkah syetan. Pintu menuju dosa-dosa dan kesengsaraan di Akhirat.
Rasulullah dengan tegas mengatakan daging dari makanan haram, maka nerakalah yang berhak menjadi tempat kembalinya:

Pada suatu hari Saad bin Abi Waqqas bertanya kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah, doakan aku kepada Allah agar aku dijadikan Allah orang yang makbul doanya." Rasulullah menjawab, "Hai Saad, makanlah yang baik, (halal) tentu engkau menjadi orang yang makbul doanya. Demi Allah yang memegang jiwa Muhammad, sesungguhnya seorang yang pernah melemparkan sesuap makanan haram ke dalam mulutnya (perutnya), maka tidaklah akan dikabulkan doanya selama selama 40 hari. Siapa saja manusia yang dagingnya tumbuh dari makanan yang haram, maka nerakalah yang berhak untuk orang itu."
(HR. Alhaafidh Abubakar bin Mardawih dikutip oleh Alhaafidh Ibnu Kathin dalam tafsirnya).

Di mimbar ini Khotib menasihati diri khotib dan jama’ah sekalian untuk memperhatikan cara kita memperoleh nafkah, yang dengan nafkah itu kita makan dan minum, yang dengan nafkah itu kita beri anak istri kita makan dan minum. Karena sudah jelas ancamannya, kesengsaraan di akhirat dan ketidak berkahan di dunia.

Ma’asiral muslimin Rahimaniy wa Rahimakumullah
Adab makan sesuai sunnah Rasulullah yang kedua:

2.       Makan, minum jangan berlebih-lebihan
Seperti disebutkan dalam QS. Al-A’raf ayat 31:
وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ 31
Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

Yang dimaksud berlebih-lebihan disini menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya adalah berlebih-lebihan dalam penghalalan dan pengharaman. Melampau batas Allah dalam penghalalalan atau pengharaman.
Adapun dalam tafsir al-Muyassar “jangan melampaui batas keseimbangan dalam makan atau minum”.
Berlebihan dalam jumlah seperti disebutkan dalam hadits Imam Ahmad dengan derajat Shahih:

“Tidaklah anak Adam mengisi bejana yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang punggungnya. Kalau ia memang harus melakukannya maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya dan sepertiga lagi untuk nafasnya.” (HR. Ahmad, an-Nasa’i dan Tirmidzi)

3,4,5 Membaca Bismillah, Makan dengan tangan kanan dan makan yang berada di dekat kita

“Wahai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang berada di dekatmu.” 
(HR Bukhari no. 5376 dan Muslim 2022)



6.  Banyaknya orang yang turut makan

Memberi makan orang adalah perbuatan yang terpuji. Imam Bukhari sampai memberi judul di salah satu bab di kitab Shahih-nya: “Memberi Makan Orang Lain Adalah Bagian Dari Islam”

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru r.a. bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Saw.:"Bagaimana menjadi muslim yang baik?" Rasulullah Saw. menjawab:"Berikan makanan pada orang lain, ucapkan salam kepada orang yang kau kenal dan yang tidak kau kenal."
(HR. Bukhari)

Imam Ahmad mengatakan, “Jika dalam satu makanan terkumpul 4 (empat) hal, maka makanan tersebut adalah makanan yang sempurna. Empat hal tersebut adalah menyebut nama Allah saat mulai makan, memuji Allah di akhir makan, banyaknya orang yang turut makan dan berasal dari sumber yang halal.
Dan hendaknya orang yang diberi makan mendoakan orang yang memberinya makan:

Ya Allah, berilah makanan orang yang memberi aku makan dan berilah minum orang yang memberi aku minuman.
(HR. Muslim no.2055)

7.  Bersyukur dengan membaca do’a setelah makan


Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillaahilladzii ath'amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merizkikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu."
(HR. Tirmidzi no. 3458. Tirmidzi berkata, hadits ini adalah hadits hasan gharib. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Ma’asiral muslimin Rahimaniy wa Rahimakumullah
Dan masih banyak lagi adab makan sesuai sunnah Rasulullah yang InsyaAllah kalau kita kerjakan akan dapat mengantarkan kita lebih dekat kepada derajat taqwa.
AQULU QOULIY HADZHA .. ASTAGFIRULLAAHU LIY WA LAKUM
Khutbah kedua

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
Ma’asiral muslimin Rahimaniy wa Rahimakumullah
Dalam khutbah kedua ini Khotib kembali mengingatkan bahwa hendaklah segala aktifitas kita adalah dalam rangka menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Dan sepeti sudah dibahas di khutbah pertama tadi bahwa bahkan aktifitas makan pun di dalamnya ada perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya. Diantaranya yaitu
1.       Tidak Makan dan Minum barang yang haram
2.       Tidak berlebihan
3.       Membaca Basmallah
4.       Makan dengan tangan kanan
5.       Makan yang berada di dekat kita
6.       Banyak orang yang turut makan / memberi makan orang lain
7.       Bersyukur dengan membaca do’a setelah makan

Mari kita berdo’a dan berazam untuk selalu melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Dan kita berdo’a kepada Allah, Zat Yang Maha Mengabulkan Doa:


عِبَادَتِكَ وَحُسْنِ وَشُكْرِكَ ذِكْرِكَ عَلَى أَعِنِّى اللَّهُمَّ
Allahumma a’inna ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik.
Ya Allah, tolonglah kami untuk berdzikir pada-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu

ALLAAHUMMA ASHLIHLANAA DIININAA ALLADZII HUWA ‘ISHMATU AMRINA,
Ya Allah, perbaikilah urusan agama kami yang menjadi penjaga bagi setiap urusan kami.
WA ASHLIHLANAA DUNYANAA ALLATIY FIIHAA MA’AASYINA,
Perbaikilah dunia kami yang di situlah urusan kehidupan kami
WA ASHLIHLANA AAKHIROTINA ALLATIY FIIHAA MA’ADINAA,
Perbaikilah akhirat kami yang ke sanalah kami akan kembali
WAJ’ALIL HAYAATA ZIYAADATALLANAA FII KULLI KHOIRIN,
Jadikanlah hidup kami ini sebagai tambahan kesempatan untuk memperbanyak amal kebajikan,
 WAJ’ALIL MAUTA ROOHATALLANA MIN KULLI SYAR
dan jadikanlah kematian kami sebagai tempat peristirahatan dari setiap kejahatan."


اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
Ya Allah, ampunilah kaum mukminin laki-laki dan wanita, kaum muslimin laki-laki dan wanita, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Sesungguhnya, Engkau adalah Dzat yang Maha Mendengar, Mahadekat, Dzat yang mengabulkan doa.”[1]

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Ya Rabb kami, berilah ampunan kepada kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu sebelum kami, dan janganlah Engkau membiarkan ada kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” [2]

ALLAAHUMMANSHURNAL MU’MININA FI SURIAH,  FII FILISTIN, FI AFGHAN, , FII KULLI MAKAN, FII KULI JAMAN

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.

SUBHANA ROBBIKA ROBBIL ‘IZZATI AMMA YASHIFUUN WA SALAAMUN ‘ALAL MURSALIN WAL HAMDULILLAAHI ROBBIL ‘AALAMIN.

Sabtu, 01 Juni 2013

TAQWA, Modal untuk Kebahagiaan Pernikahan

Khutbah Nikah 12/05/2013

Rumah Joglo - Garut
Pernikahan Sahabatku, semoga kita menjadi tetangga di Surga Allah...


Jumat, 12 April 2013

Keutamaan Dalam Mendidik Anak - Ust. Fuad Hamzah Baraba

- Hendaklah kita semua menjadi orang yg bersyukur

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni'mat)-Ku."(QS. 2:152)
"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."(QS. 14:7)

- Termasuk kita harus mensyukuri nikmat harta dan keturunan

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (QS. Al-Anfaal: 27-28)

- Apabila tidak disyukuri maka harta dan anak akan menjadi fitnah

"Sesungguhnya setiap umat mempunyai ujian, dan ujian bagi umatku adalah harta." (HR. At-Tirmidzi no. 2336)
"Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar." (At-Taghabun: 15)

- Hendaknya kita mensyukuri amanah anak, baik anak laki-laki maupun anak perempuan

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS. As-Syuro [42]: 49-50)

Pada ayat diatas Allah mendahulukan anak perempuan :
1. Bahwa anak perempuan dimuliakan oleh Allah sehingga orang tua si anak menjadi tenang
2. Mencela orang jahilyah yg merendahkan anak perempuan
3. Melindungi ibu/wanita yg melahirkan anak perempuan
4. Mencela kebodohan suami yg memaksakan kehendak (Ingin anak laki-laki)
5. Menghindari tasyabuh dg orang jahiliyah yg ketika lahir anak perempuan merasa malu

- Mengurus anak perempuan dibebaskan dari api neraka dan berbuah surga

Diriwayatkan dari Aisyah ra. : seorang ibu bersama dua orang anak perempuannya menemuiku untuk meminta (sedekah), namun ia tidak menemukan apa pun padaku kecuali sebuah kurma yang kuberikan kepadanya dan ia bagi dua untuk anak-anaknya, sedangkan ia sendiri tidak memakannya, setelah itu ia pun bangun dan pergi. Kemudian Nabi Muhammad Saw menemuiku dan kuberitahukan kejadian itu kepadanya. Nabi Muhammad Saw bersabda, "siapa pun yang diuji dengan anak-anak perempuannya dan ia menyenangkan mereka dengan kebajikan maka anak-anak perempuannya akan menjadi perisai mereka dari api neraka". (HR. Bukhari)
Juga sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari "Barangsiapa mempunyai tiga orang anak perempuan dan bersabar atasnya dan mencukupinya maka anaknya akan menjadi penghalang dari api neraka".
Dari Anas bin Malik ra berkata bahwa rasulullah SAW bersabda:"Barangsiapa mengasuh dua anak gadis sampai mereka berdua mencapai tahap dewasa, maka dia kelak akan datang di Hari Kiamat, sementara aku dan dia begini-begini (Rasulullah SAW memberikan isyarat dengan merapatkan jarinya)." (HR Muslim dan Tirmidzi) Dan dalam riwayat Tirmidzi disebutkan," Maka aku dan dia masuk surga seperti dua ini." Beliau memberikan isyarat dengan jari-jarinya.

- Bahwa orang tua wajib mendidik anak-anaknya karena sedianya setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah

Hadits Muslim 4803
حَدَّثَنَا حَاجِبُ بْنُ الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَرْبٍ عَنْ الزُّبَيْدِيِّ عَنْ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ ثُمَّ يَقُولُا أَبُو هُرَيْرَةَ وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ { فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ } الْآيَةَ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى ح و حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ كِلَاهُمَا عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَقَالَ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً وَلَمْ يَذْكُرْ جَمْعَاءَ
Seorang bayi tak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yg akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi -sebagaimana hewan yg dilahirkan dalam keadaan selamat tanpa cacat. Maka, apakah kalian merasakan adanya cacat?
' Lalu Abu Hurairah berkata; 'Apabila kalian mau, maka bacalah firman Allah yg berbunyi: '…tetaplah atas fitrah Allah yg telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah.' (QS. Ar Ruum (30): 30). Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah; telah menceritakan kepada kami 'Abdul 'Alaa Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, & telah menceritakan kepada kami 'Abd bin Humaid; telah mengabarkan kepada kami 'Abdurrazzaq keduanya dari Ma'mar dari Az Zuhri dgn sanad ini & dia berkata; 'Sebagaimana hewan ternak melahirkan anaknya. -tanpa menyebutkan cacat.-


- Dan setiap orang tua harus menjaga anak keluarganya dari api neraka

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS.at-Tahrim [66]: 6)

- Didik anak-anaknya untuk memanfaatkan masa mudanya dalam keridhoan Allah

"Tidak akan bergeser kedua kaki Anak Adam pada hari kiamat dari Rabbnya hingga dia ditanya tentang 5 perkara:
tentang usianya, untuk apa ia habiskan;
tentang masa mudanya, untuk apa ia gunakan;
tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan;
serta tentang ilmunya, apa yang ia perbuat dengannya." HR. At-Tirmidzi

- Hendaknya orang tua tidak segan menafkahkan hartanya untuk kebaikan anak (pendidikan, adab, pengetahuan, dll) karena nafkah tersebut adalah sedekah yang utama

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Satu dinar yang engkau belanjakan untuk perjuangan fisabilillah, satu dinar yang engkau belanjakan untuk seorang hamba sahaya -lalu dapat segera merdeka-, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada seorang miskin dan satu dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu, maka yang terbesar pahalanya ialah yang engkau nafkahkan kepada keluargamu itu." (Riwayat Muslim)

- Investasikan waktu dan hartamu untuk mendidik anak-anakmu karena ia adalah pahala yg akan mengalir untukmu

Di dalam As Shahih diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda :
"Apabila seorang anak Adam meninggal, maka akan terputus amalannya kecuali tiga perkara : shadaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakan kepadanya".

- Dan ia akan menjadi sumber kebahagiaanmu ketika Allah kembali menyatukan keluargamu di akhirat

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (QS. At-Tur [52]: 21)

- Pelajaran pertama dan utama yang harus diajarkan adalah Tauhid

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, dikala sedang memberinya nasihat, (katanya) : Hai anakku! Janganlah engaku mempersekutukan allah, kerana sesungguhnya syirik itu adalah suatu penganiayaan yang besar. (QS. Luqman: 13)
Juga sebagaimana Nabi Yakub yang bahkan di akhir hayatnya pun mengingatkan anaknya untuk selalu bertauhid.
Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya."


Semoga Allah menjadikan kita semua orang yang dapat menjaga anak dan keluarganya dari api neraka.


-Oooo-oooO-



Info kajian ....
Kajian Ilmiah rutin sabtu pekan ke 2 di Masjd Jannatul Firdaus, belakang sekolah PB Sudirman Taman Galaxy.
- Hari  Sabtu, 13 April  2013
- Pukul 09.00 - selesai
- Ust. Fuad Hamzah Baraba (dari STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya)
- Materi  "Keutamaan Dalam Mendidik Anak"
Rute : kendaraan arah kalimalang turun di superindo jaka permai, naik 05A turun jogging track taman aster/masjid jannatul firdaus.
Bagi yang membawa kendaraan mobil/motor, parkir di halaman parkir SMA PB Sudirman.
Cp :
Abu Abdillah 0811179759
Abu Fakhry 08551020015